Thursday, October 31, 2013

Hilangnya Situs Sejarah Islam di Makkah dan Madinah


Pemandangan Masjidil Haram Penuh Crane

Dinasti Usmaniyah sudah melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai pengelola dan penjaga Tanah Suci Makkah dan Madinah selama berabad-abad, dan sekarang usaha telaten mereka telah diobrak-abrik dalam waktu singkat oleh rezim dinasti Saudiyah. Selama 2 dekade terakhir, sudah sekitar 95% bangunan berusia lebih dari seabad yang diruntuhkan.

Diantara contoh pelenyapan peninggalan sejarah Islam adalah menyulap rumah Rasulullah SAW di kompleks masjid sebagai perpustakaan dan menghancurkan rumah peninggalah Khadijah RA untuk menjadi toilet umum. (http://palingseru.com/14151/5-peninggalan-nabi-muhammad-yang-dihancurkan-arab-saudi).

Selain itu di tempat yang dulunya rumah Abu Bakar RA sekarang sudah berdiri Hotel Hilton. Lokasi Masjid Abu Qubais juga telah jadi istana raja di Makkah.

Dari 7 masjid yang dibangun oleh putri Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin di Madinah, sudah ada 5 yang diruntuhkan: Masjid Abu Bakar, Masjid Salman, Masjid Umar, Masjid Fatimah, dan Masjid Ali.

Contoh lainnya adalah Benteng Ajyad di Bukit Bulbul yang dibangun pada 1781. Pada tahun 2002, Benteng Ajyad dihancurkan dan perbukitan Bulbul diratakan untuk memberi ruang bagi pembangunan Abraj Al-Bait Towers.

Bagi keluarga kerajaan dan ulama konservatif Saudi (yang sering disebut Wahabi), situs-situs bersejarah tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.

Di samping itu, ada kenyataan penting lainnya. Saban tahun jutaan umat Islam melangsungkan ritual ibadah haji di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah. (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/03/17/mjt7q7-situs-sejarah-islam-di-makkah-punah).

Mega proyek ini rencananya akan merubah kawasan Masjidil Haram dari 356.000 m2 menjadi 812.000 m2. Pada saat ini, masjid terbesar di dunia ini bisa menampung hingga 770.000 jamaah. Dengan penambahan itu daya tampung akan bertambah 1,2 juta lagi sehingga total kapasitas kurang lebih 2 juta jamaah di dalam dan di halaman masjid. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana hingga US$ 100 milyar, jika di kalkulasikan dalam rupiah kira-kira sama dengan Rp 920 trilyun. (http://lelakiceria.blogspot.com/2013/06/mega-proyek-perluasan-masjidil-haram.html).

Ka'bah yang dulunya ada di titik fokus utama dari semua mata yang memandang, akan jadi seperti benda kecil di kaki menara jam.

Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai obyek penghancuran. Kata dia, penghancuran situs penting Umat Islam adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Islam. “Kami telah kehilangan sekitar 400-500 situs bersejarah Islam. Saya hanya berharap, sekarang tidak terlalu terlambat untuk menyelamatkan sisanya.” katanya kepada The Independent. (http://www.majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/2576-makkah-berbenah--jangan-melupakan-sejarah-bagian-2).

PERTEMUAN forum ilmuwan ke-13 yang digelar di Universitas Umm Al-Qura Makkah menyatakan bahwa Gunung Abu Qubais di dekat pintu Al-Safa Masjidil Haram tidak bisa dikeruk karena merupakan sumber mata air Zamzam. Muhammad Idris yang  mewakili lembaga peneliti Haji di Universitas Al-Qura mengatakan bahwa Gunung Abu Qubais merupakan hambatan bagi perluasan bagian Safa. "Laporan dari Survei Geologi Saudi membuktikan bahwa gunung Abu Qubais berisi hulu air zamzam, dan jika gunung itu dimusnahkan, akan merusak sumber mata air Zamzam," kata Idris.

Sekedar diketahui, di Makkah banyak bukit-bukit batu yang bagian bawahnya dilubangi agar dapat dilalui kendaraan. Bukit-bukit itu juga terdapat di sekitar Masjidil Haram. Salah satunya adalah bukit kecil yang disebut Gunung Abu Qubais ini. (http://pemerintah.atjehpost.com/read/2013/05/10/51203/0/51/Saudi-berencana-keruk-gunung-sumber-air-Zamzam-terancam).

Semua tuduhan penghancuran diatas diarahkan ke tiga pihak:
-Pemerintah Saudi Arabia yang dipimpin oleh keturunan Raja Muhammad bin Saud yang bergelimang petrodollar dan hidup penuh kemewahan
-Para ulama konservatif Saudi seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al Utsaimin, yang sangat keras dalam membersihkan segala hal yang ditakutkan akan membuka pintu kesyirikan. Bahkan kabarnya imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais, ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan.
-Saudi Binladin Group yang menguasai sektor  konstruksi dalam skala besar di Saudi Arabia dan memenangkan tender proyeknya. Bahkan PT Waskita Karya Tbk, BUMN Indonesia, dalam proyek itu bertindak sebagai kontraktor. (http://www.solopos.com/2013/04/10/wow-waskita-karya-jadi-kontraktor-pembangunan-masjidil-haram-395520).

Anehnya, ketika mereka menggebu-gebu menghancurkan situs bersejarah Islam di kedua kota suci, dalam waktu bersamaan mereka mengundang pintu maksiat dan kapitalisme untuk menyerbu masuk: grup-grup hotel mewah, seperti Intercontinental, termasuk pula Hilton dan ikonnya, Paris Hilton, yang bahkan mendirikan butik di Mekkah. Ckckckckck.

"Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah." (HR. Bukhari)

Monday, October 28, 2013

Kriteria Kunci Kebahagiaan

World Happiness Report yang dikeluarkan oleh UN Sustainable Development Solutions Network pada bulan September 2013 mengukur kelayakan hidup penduduk di lebih dari 150 negara berdasarkan beberapa kriteria utama: pendapatan per kapita, tingkat harapan hidup sehat, kehandalan layanan publik, persepsi kebebasan memilih, kebebasan dari korupsi, dan kemudahan memperoleh barang dan jasa. Laporan ini juga menyebutkan bahwa orang yang bahagia cenderung punya pendapatan yang lebih tinggi, lebih produktif, dan menjadi warga masyarakat yang lebih baik (refer http://www.bbc.com/travel/feature/20131022-living-in-the-worlds-happiest-places).


Aarhus


Dan kota mana saja yang ada di peringkat 5 besar? Ini dia:
1. Aarhus, Denmark
Aarhus adalah kota terbesar kedua di Denmark setelah Copenhagen. Penduduknya sekitar 300 ribu jiwa. Lebih 10% penduduknya adalah imigran diantaranya dari Arab, Turki, dan Somalia. Aarhus punya pelabuhan yang juga salah satu terbesar di Eropa Utara, selain mengandalkan sektor pertanian. Di kota ini juga berdiri Aarhus University yang merupakan universitas terbesar di Denmark (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Aarhus,_Denmark).

2. Oslo, Norwegia
Oslo ada kota terbesar di Norwegia. Penduduknya sekitar 600 ribu jiwa. Imigran non-Eropa disini kebanyakan berasal dari Pakistan, Somalia, Srilanka. Kota ini adalah salah satu pusat bisnis pelayaran di Eropa dengan banyak perusahaan di bidang jasa maritim. Kota ini juga salah satu kota dengan biaya hidup paling tinggi di dunia, terutama karena harga properti yang mahal. Di kota ini berdiri University of Oslo, universitas terbesar di Norwegia (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Oslo,_Norway).

3. Geneva, Swiss
Geneva adalah kota terbesar kedua di Swiss setelah Zurich, dengan penduduk sekitar 200 ribu. Kota ini adalah markas besar UN di Eropa. Ekonominya mengandalkan sektor jasa keuangan, selain produk khas seperti jam dan parfum. Geneva adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal dan tempat berdirinya University of Geneva (http://en.wikipedia.org/wiki/Geneva,_Switzerland).

4. Utrecht, Belanda
Utrecht adalah kota terbesar keempat di Belanda dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Kebanyakan imigran non-Eropa berasal dari Maroko, Turki, dan Suriname. Kota ini adalah pusat jaringan kereta di Belanda, namun lebih terkenal sebagai tempat berdirinya Utrecht University, universitas terbesar di Belanda (http://en.wikipedia.org/wiki/Utrecht,_Netherlands).

5. Malmo Swedia
Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia. Kota ini berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa dan imigran non-Eropa kebanyakan berasal dari Iraq, Libanon, dan Iran. Secara ekonomi kota ini tidak terlalu maju, sebagian penduduknya bekerja di Copenhagen Denmark karena kedua kota ini terhubung oleh salah satu jembatan diatas laut terpanjang di Eropa, Oresund Bridge. Di kota ini berdiri Malmo University yang kalah terkenal dibanding kampus di kota sebelah, Lund University  (http://en.wikipedia.org/wiki/Malmo,_Sweden).

Setelah membaca mengenai kota-kota diatas, kita tentu tidak bisa bilang yakin atau tidak yakin terhadap kualifikasi yang dipakai menentukan tingkat kebahagiaan penduduknya. Mengingat ini hanya soal kebahagiaan dunia, kriterianya ya duniawiyah semata.

Tapi coba dengar apa kata Ibnu Abbas RA ketika ditanya para tabiin mengenai kebahagiaan dunia. Beliau memberikan 7 indikator:
1. Hati yang Selalu Bersyukur
Hati yang selalu merasa cukup, tanpa ambisi berlebihan, bebas stress.

2. Pasangan Hidup yang Soleh
Pasangan yang seperti ini bisa menciptakan suasana rumah yang penuh kesolehan pula.

3. Anak yang Baik
Anak yang soleh doanya untuk orang tua dijamin dikabulkan oleh Allah SWT.

4. Lingkungan yang Kondusif untuk Keimanan Kita
Orang yang soleh selalu memancarkan nikmat iman dan nikmat Islam dari cahaya wajahnya, menyinari orang-orang di sekitarnya termasuk kita.

5. Harta yang Halal
Harta yang halal memudahkan doa dikabulkan, membersihkan hati, dan memberi ketenangan.

6. Semangat Memahami Agama
Semakin cinta pada ilmu agama akan menghidupkan hati, dan akan makin cinta kepada Allah dan rasul-Nya.

7. Umur yang Berkah
Semakin tua semakin soleh, setiap detik diisi dengan amal ibadah. Tidak takut untuk meninggalkan dunia ini, penuh harap untuk akhirat sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. (refer http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tujuh-kunci-kebahagiaan/).




Wednesday, October 23, 2013

Pengalaman Memperpanjang Paspor Secara Online



Ini adalah pengalaman kami ketika memperpanjang paspor. Searching di internet, masuk ke website-nya Ditjen Imigrasi, kami temukan link ini: https://onlinedpri.imigrasi.go.id. Ini adalah link untuk pra-permohonan perpanjangan paspor one-day-service yang sedang diujicoba di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.

Di link ini kami harus memasukkan beberapa informasi seperti nama sesuai paspor lama, nomor paspor lama, dan beberapa informasi lainnya. Tidak ada file yang harus di-attach. Di layar terakhir kami pilih tempat dan waktu kedatangan berikut: Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Pusat, tanggal 04-Juni-2013 jam 10:00. Setelah data di-submit, kami menerima email yang berisi surat permohonan dengan barcode, user ID dan password. Surat ini lalu kami print.

Pada tanggal yang ditentukan, kami pun datang ke Kanim Jakpus. Karena naik kereta, kami turun di stasiun Juanda, lalu disambung ojek hingga ke kantor yang berada di kawasan Kemayoran itu. Tidak terlalu jauh dari stasiun. Persyaratan yang dibawa:
1. KTP asli dan 2 fotocopy (salah satunya untuk ambil map kuning di koperasi)
2. Kartu keluarga asli dan fotocopy
3. Akta lahir atau Ijazah atau Surat nikah (kami sendiri bawa ketiga-tiganya, asli dan fotocopy)
4. Printout Surat permohonan ber-barcode
Sebagai tips, pergilah ke koperasi lebih dulu (lokasi: jalan sedikit ke bagian belakang kantor), tukarkan fotocopy KTP dengan map kuning + formulir. Masukkan semua berkas ke map itu. Formulir tidak perlu diisi.

Kembali ke pintu depan, masuk lalu langsung ke meja verifikasi berkas. Setelah dicek dan ditandai sedikit, langsung saja kami ke loket 2 yang khusus untuk permohonan online. Disini berkas dicek lagi, lalu ditandai. Setelah itu kami scan barcode di online kiosk untuk mendapat nomor urut antrian. Yang perlu diperhatikan, kami harus datang pada jam sesuai yang tertulis di printout surat permohonan tersebut. Tidak lebih cepat dan tidak pula lebih lambat.

Selanjutnya kami naik ke lantai 2 untuk menunggu giliran membayar ke kasir. Nomor urut antrian bisa dipantau lewat televisi yang jumlahnya cukup banyak. Lalu kami pun bayar sesuai ketentuan (Rp 255rb). Tak lama kemudian kami dipanggil untuk wawancara. Wawancara ini hanya menanyakan beberapa hal yang mendasar sesuai yang kita isi di permohonan online dan sedikit basa-basi soal tujuan memperpanjang paspor. Lalu geser ke meja sebelahnya untuk koreksi data, lalu geser ke sebelahnya untuk foto. Selesai, kami lalu menerima surat sebagai tanda pengambilan paspor.

Keluar dari ruang wawancara kami langsung ke loket pengambilan paspor dan diberitahu bahwa paspor bisa diambil hari itu juga jam 15.30 atau bisa juga besok paginya. Berikut adalah kronologi prosedur yang kami ikuti:
-09:00 sampai di Kanim Jakpus
-09:10 ambil map kuning, ke meja verifikasi berkas, langsung ke loket 2 khusus online
-09:30 ambil nomor antrian di online kiosk
-10:05 bayar ke kasir
-10:15 wawancara, koreksi data, dan foto
-10:30 selesai, pulang dulu
-15:30 datang lagi, ambil paspor baru
Opsional: jika paspor lama ingin diambil juga, isi juga formulir yang tersedia + materai 6 ribu. Setelah paspor baru diterima, fotocopy dulu ke koperasi, lalu serahkan ke loket pengambilan untuk mengambil paspor lamanya.



Sangat mudah bukan? Irit waktu dan tak ada pembengkakan biaya. (Artikel ini sebelumnya sudah kami muat di sini)

Monday, October 21, 2013

Perjalanan Umroh





Beberapa waktu yang lalu kami melakukan perjalanan umroh di bulan suci Ramadhan. Perjalanan ini sungguh meninggalkan kesan yang indah dan menyejukkan bagi kami, sehingga ingin rasanya diulang setiap tahun.


1. PERSIAPAN DI TANAH AIR

Karena baru pertama kali, tentu saja kami sempat berlama-lama mencari travel mana yang kelihatannya paling baik tapi juga paling murah dari segi biaya. Dari paket-paket yang umumnya disediakan, ada yang mahal seperti paket umroh sepertiga akhir Ramadhan atau paket umroh plus Turki dan sebagainya. Tapi kami tetap fokus mencari yang termurah dan masuk akal.

Awalnya kami tertarik ikut program Optimasi Umroh yang diadakan oleh sebuah biro travel. Sudah bayar penuh, melengkapi persyaratan dan lain-lain, kami pun mengikuti acara manasiknya. Peserta waktu itu cukup banyak, mungkin tertarik dengan konsep yang ditawarkan, dan mungkin juga karena biayanya yang sangat murah. Acara dimulai dari pagi, peserta pun cukup bersemangat. Namun di akhir acara panitia mengumumkan bahwa jadwal keberangkatan terpaksa ditunda karena visa yang tidak kunjung turun dan bangkrutnya salah satu maskapai penerbangan nasional yang sedianya akan dipakai. Panitia menawarkan jadwal baru, tapi di kemudian hari kami lebih memilih untuk batal dan menarik uang kami kembali.

Dari pengalaman ini, kami coba menarik kesimpulan bahwa untuk urusan ke tanah suci, jangan terlalu percaya kepada biro travel, apa lagi yang masih baru. Lalu kami pun mencari biro yang lain. Dari hasil browsing, maupun rekomendasi teman, kami pilih satu biro travel yang sudah berdiri sejak tahun 1978 di daerah Jatibening, Bekasi. Kami pilih paket yang termurah (paket 9 hari) dan melengkapi persyaratan. Adapun persyaratan yang biasanya harus dilengkapi untuk perjalanan umroh adalah:

-Setor Dana: tentu saja akan dipakai untuk membayar tiket pesawat, hotel, visa dan sebagainya. Semua diatur oleh biro travel.
-Passport: Paspor itu minimal masih berlaku hingga 6 bulan ke depan (menurut kami, kalau sudah akan habis masa berlakunya dalam 7-8 bulan ke depan, mending perpanjang lagi dulu ke Imigrasi. Khusus cara perpanjang paspor akan kami tulis di blog ini juga).
-Sertifikat Vaksinasi Meningitis: karena termasuk kawasan rawan Meningitis (penyakit radang otak) kita wajib divaksinasi Meningitis. Tanyakan ke pihak biro travel bagaimana cara memperolehnya. Sertifikatnya berlaku sampai 2 tahun.
-Pasfoto: diperlukan untuk pengurusan visa dan lain-lain.
-Fotocopy KTP, KK, Buku Nikah: buku nikah dibutuhkan hanya untuk yang ambil paket hotel sekamar suami istri.



Apa kesan kami dari biro travel ini:
-Kelihatannya cukup berpengalaman menangani travel umroh maupun haji. Tapi soal profesionalitas mungkin berbeda. Seperti biasa, ternyata visa juga tertunda. Bukan hanya sekali, malah berkali-kali. Untungnya petugas yang memberitahu kami soal ini cukup telaten melayani pertanyaan dan kekecewaan kami.
-Mulanya agenda umroh kami dimulai dari Madinah, lanjut ke Mekkah, lalu pulang lewat Jeddah. Namun akhirnya berubah jadi dari Madinah langsung ke Mekkah, lalu balik ke Madinah, lalu pulang lewat Jeddah. Jauh lebih melelahkan karena jarak Mekkah maupun Jeddah ke Madinah sekitar 6 jam pakai bis. Biro travel beralasan bahwa gara-gara visa telat, umroh kami yang sebelumnya reguler berubah jadi umroh Ramadhan, sehingga biaya hotel meningkat dan mereka menghindari biaya hotel yang tinggi di Mekkah saat sepertiga akhir Ramadhan. Capek juga.
-Tiap orang berhak mendapatkan paket perlengkapan berupa koper ukuran sedang, tas kecil untuk membawa perlengkapan sholat, mukena bagi perempuan, kain ihram dan ikat pinggang bagi laki-laki. Selain itu ada pula bahan kain batik yang harus kami bawa ke penjahit untuk seragam kami. Kami pun sebelumnya sudah sempat belanja di pasar sehingga ada beberapa perlengkapan yang jadi double, seperti kain ihram.
-Ketika berangkat dari bandara Soekarno Hatta, kami hanya diantar sampai check-in, setelah itu kami mengurus diri masing-masing hingga sampai di bandara Madinah. Mungkin karena rombongan kami kecil, jadi tidak disediakan pembimbing khusus. Lain kali kami lebih suka cari travel umroh yang pembimbingnya ikut bersama rombongan dari mulai berangkat sampai pulang ke tanah air.
-Transportasi yang disediakan biro travel sebenarnya sangat memadai. Tapi bis kami sempat pecah ban dalam perjalanan dari Madinah ke Jeddah. Lumayan membuang waktu untuk menunggu bis pengganti.
-Hotel kami di Mekkah mungkin sekitar 800 meter jaraknya dari pintu Masjidil Haram. Sedangkan yang di Madinah jaraknya sedikit lebih dekat ke Masjid Nabawi. Mungkin karena harus menyesuaikan dengat anggaran juga. Jadi kami agak maklum. Jarak jadi pertimbangan bagi sebagian jamaah mengingat udara yang panas di siang hari. Kalaupun ada angin, anginnya membawa hawa panas pula. Bagi kami, apa lagi yang terbiasa dengan panas teriknya kota Surabaya dan Jakarta, tak masalah sama sekali.
-Di hotel, karena bulan puasa, kami dapat jatah makan sahur dan makan berbuka. Pilihan makanan Indonesianya cukup baik. Ternyata pihak biro travel punya juru masak dari Indonesia yang cukup jago.


Secara umum, biro travel yang berpengalaman pun tidak bisa menjamin bahwa perjalanan umroh kita akan nyaman. Niat yang ikhlas sejak melangkahkan kaki dari rumahlah yang akan jadi sumber kenikmatan saat tinggal di tanah suci dan beribadah disana.


2. UMROH PERTAMA


Labbaika Allahumma Labbaika. Kami tiba di bandara Madinah malam hari. Bandaranya masih baru dan sepertinya tidak begitu besar. Kami sempat sholat dulu disini. Baru kemudian antri imigrasi dan bagasi. Melihat kesemrawutannya jadi ingat tanah air lagi. Keluar dari bandara, udara khas tanah Arab langsung terasa: siangnya panas, malamnya hangat, bahkan angin pun hangat hawanya. Hangat, seperti kalau kita berjalan di dekatnya mesin yang bahan bakarnya solar. Disini kami bertemu dengan ustad yang akan membimbing kami yang lalu membawa kami ke bis langsung menuju Mekkah. Kami sempat makan dulu di bis. Lalu Pak Ustad meminta kami untuk bersiap-siap ambil miqat di Bir Ali. Disini jamaah protes karena pihak biro travel di tanah air sebelumnya tidak memberitahu bahwa begitu sampai Mekkah kita akan langsung umroh. Setelah protes mereda, akhirnya jamaah pun legowo. Terpaksa agak repot bongkar-bongkar koper dulu di masjid Bir Ali.

Di masjid Bir Ali kami mandi lalu langsung mengenakan pakaian ihram. Untuk perempuan cukup pakaian yang menutup aurat dan bisa dipakai untuk sholat. Bagi laki-laki, hanya boleh dua lembar kain saja (no underwear), tanpa jahitan, untuk menutupi aurat. Sebagai penguat lipatan kain, terutama bagian bawah, bisa digunakan ikat pinggang. Setelah sholat sunnah dua rakaat di masjid Bir Ali, kami naik bis lagi, dan Pak Ustad membimbing kami untuk berihram dengan membaca talbiyah ihram.

Lalu kami memperbanyak membaca talbiyah sepanjang perjalanan, dan menyempatkan tidur. Setiba di kota Mekkah, azan Subuh dari Masjidil Haram pun terdengar. Sebagian jamaah hanya sempat minum dan makan roti seadanya untuk sahur. Dimulailah hari pertama berpuasa di Mekkah, tanpa sahur yang memadai. Tak apalah, yang penting niat yang kuat. Sampai di hotel, kami masuk ke kamar masing-masing, sholat subuh berjamaah di hotel, lalu menyempatkan untuk istirahat sedikit, buang air, dan sebagainya. Jam 7 pagi, ambil wudhu lagi, lalu Pak Ustad membawa kami untuk pertama kalinya menuju Masjidil Haram.

Jalanan menuju Masjidil Haram cukup ramai oleh kendaraan maupun jamaah baik yang baru datang maupun pulang. Begitu sampai di U-turn dekat gerbang di sebelahnya mall/hotel Grand Zamzam, suasana tambah ramai (disini ada lapangan yang dihinggapi banyak burung merpati. Banyak perempuan berwajah Afrika menjual makanan burung bagi jamaah yang ingin memberi makan burung-burung merpati disana). Talbiyah selalu kami ucapkan.

Lalu kami tiba di pintu Masjidil Haram yang dipenuhi jamaah baik keluar maupun masuk. Tidak lupa, langsung keluarkan plastik kresek untuk menyimpan sandal di tas. Masjidil Haram dipenuhi oleh orang yang i'tikaf. Hampir semua bagian sudah penuh jamaah. Ada yang shalat, tilawah, ngobrol, dan tidur. Kami langsung ambil posisi yang enak, lalu sujud syukur. Alhamdulillah, menginjakkan kaki di depan Ka'bah untuk pertama kalinya.

Masih sekitar jam 7 pagi, dan panas mentari sudah menyengat. Kami memulai proses umroh dengan thawaf: mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 putaran, diawali dari salah satu pojok Ka'bah yang sejajarnya ditandai dengan lampu hijau. Segera saja kami berdua terpisah dari rombongan karena ramainya jalur thawaf. Pada beberapa bagian kami juga mesti berdesakan dengan jamaah lainnya, dan tentu saja mesti sedikit mengalah mengingat postur badan orang Indonesia kalah gede dibanding orang Arab, Afrika, India. Di awal posisi start thawaf, sunnahnya kita mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan 'Bismillahi wallahu akbar '. Lalu berjalan terus melintasi Maqam Ibrahim, (hanya bisa mengintip dari kaca sangkar penutupnya saja), kemudian melintasi Hijir Ismail (susah sekali dan tidak bisa masuk ke dalam diantara tembok Hijir Ismail dan dinding Ka'bah karena padatnya jamaah), lalu terus bergerak memutar sampai bertemu dengan posisi start kembali, dan membaca 'Bismillahi wallahu akbar' lagi. Begitu seterusnya sampai 7 putaran.

Setelah selesai, kami menyingkir dari arus thawaf agak menjauh dari Ka'bah tapi masih di depannya Maqam Ibrahim (posisi Maqam Ibrahim berada diantara posisi kami dan Ka'bah). Disana kami shalat sunnah 2 rakaat dan berdoa yang banyak.

Kemudian kami beranjak menuju jalur sa'i. Jalur sa'i sebenarnya dekat sekali, masih dalam kompleks Masjidil Haram. Hanya saja, karena aktifitas pembangunan Masjidil Haram yang ada dimana-mana, kami agak bingung sehingga mesti muter-muter dulu baru ketemu bukit Shafa (tidak seperti yang dibayangkan, biarpun masih disebut bukit, tapi tidak terasa terlalu tinggi). Proses sa'i dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa. Di kedua bukit itu kita berdoa dengan bacaan yang dituntunkan. Lalu jamaah mesti jalan sebanyak 7 kali bolak-balik, dari Shafa ke Marwa ataupun dari Marwa ke Shafa dianggap satu kali. Jadi sebenarnya secara matematis sai itu hanya 3.5 putaran saja. Di antara kedua bukit ada bagian jalur yang ditandai dengan lampu hijau, disini jamaah laki-laki disunnahkan untuk berlari sambil membaca doa yang dituntunkan. Di sepanjang jalur banyak pilar-pilar yang jadi tempat favorit jamaah yang ingin beristirahat, dan banyak pula keran air zamzam bagi yang ingin menyegarkan diri (karena bulan puasa, mestinya jangan diminum di siang hari, hehe).


Sa'i berakhir di bukit Shafa, dan kami menutupnya dengan memotong rambut. Selesailah umroh pertama kami ini. Dan istimewanya di bulan puasa pula. Kami menyempatkan diri melihat-lihat beberapa bagian Masjidil Haram yang sedang mengalami renovasi cukup besar. Selain polisi yang jumlahnya memang banyak, tentu banyak pula pekerja konstruksi dimana-mana, dan crane didirikan dimana-mana. Setelah itu kami kembali melintasi lautan manusia yang lalu-lalang di pelataran Masjidil Haram, kembali menuju hotel.


3. MADINAH

Setelah beberapa hari di Mekkah, dan sempat umroh 2 kali, kami pindah ke Madinah. Saat itu sebentar lagi masuk 10 hari terakhir Ramadhan. Begitu membereskan bawaan di hotel, hari sudah sore, kami langsung melangkah menuju Masjid Nabawi. Hotel kami jaraknya sekitar 2 blok dari pintu gerbang masjid (2 kali menyeberangi jalan). Di sepanjang trotoar yang juga merupakan emperan hotel berbintang, banyak sekali pedagang yang ternyata nanti semakin malam semakin ramai.


Begitu masuk halaman masjid, sudah banyak tikar plastik terhampar dan orang duduk di depan makanan. Saya dan istri berpisah tempat, dan belum sampai pintu masjid saya sudah ditarik-tarik oleh seorang remaja Arab yang sok akrab dan mengajak saya masuk ke dalam masjid, ke tempat dimana teman-temannya sudah berkumpul. Ternyata banyak sekali remaja seperti dia yang tugasnya mengajak para jamaah untuk duduk berbuka puasa di salah satu sudut masjid yang mereka 'kuasai'. Mungkin keluarganya ikut menyumbang makanan untuk berbuka puasa di masjid sehingga anak ini bertugas memastikan makanan sumbangan mereka ada yang mengkonsumsi. Saya senang-senang saja. Yang disuguhkan sebenarnya sudah standar, biarpun lebih 'mewah' dibanding yang saya rasakan di Masjidil Haram. Yoghurt, roti, zamzam, kurma, dan kacang.


Selama sekitar 3 malam di Madinah, inilah yang kami lakukan: Sahur di hotel, sholat lima waktu dan tarawih di masjid, baca Quran, buka puasa di masjid, tidur di hotel, dan belanja di toko dan kaki lima sekitar masjid. Banyak sekali toko perhiasan di sekitar masjid, selain toko suvenir dan toko pakaian. Tapi untuk urusan oleh-oleh, kami pilih Bin Dawood. Supermarket ini punya cabang di dekat 2 masjid penuh berkah: Haram dan Nabawi.