Friday, November 8, 2013
Tamasya ke Surga (1): Surga dan Neraka Pun Mengeluh
Kali ini kami coba kutip beberapa hadits yang disebutkan dalam buku Tamasya Ke Surga karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Sedikit demi sedikit mari kita renungkan keberadaan kita di dunia ini dan tujuan perjalanan hidup kita.Semoga tulisan ini bisa berlanjut ke seri-seri berikutnya.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah RA:
"(Jalan menuju) surga diliputi dengan segala hal yang tidak menyenangkan dan (jalan menuju) neraka diliputi dengan syahwat."
Mari kita dengarkan keluhan dari surga dan neraka dalam dua hadits berikut ini. Betapa mereka menanti-nantikan para calon penghuninya.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Surga dan neraka mengajukan protes. Surga berkata, 'Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam surga hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang kelas gembel?' Neraka berkata, 'Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam neraka ini hanya orang-orang yang kejam dan sombong?' Allah berkata, 'Surga, engkau adalah rahmat-Ku yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Dan neraka, engkau adalah siksa-Ku yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap masing-masing dari kalian mempunyai penghuni'."
Laits bin Sa'ad meriwayatkan dari Muawiyah bin Shalih dari Abdul Malik bin Basyir:
"Setiap hari surga dan neraka meminta kepada Tuhannya. Surga berkata, 'Ya Tuhanku, buah-buahanku telah ranum, sungai-sungai telah mengalir dan aku sudah sangat rindu kepada kekasih-kekasihku. Maka cepat kirim penghuni surga kepadaku.' Neraka berkata, 'Hawa panasku semakin menyengat, jurangku semakin dalam dan bara apiku semakin besar. Maka cepat antarkan penghuni neraka kepadaku'."
(bersambung)
Thursday, October 31, 2013
Hilangnya Situs Sejarah Islam di Makkah dan Madinah
![]() |
| Pemandangan Masjidil Haram Penuh Crane |
Dinasti Usmaniyah sudah melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai pengelola dan penjaga Tanah Suci Makkah dan Madinah selama berabad-abad, dan sekarang usaha telaten mereka telah diobrak-abrik dalam waktu singkat oleh rezim dinasti Saudiyah. Selama 2 dekade terakhir, sudah sekitar 95% bangunan berusia lebih dari seabad yang diruntuhkan.
Diantara contoh pelenyapan peninggalan sejarah Islam adalah menyulap rumah Rasulullah SAW di kompleks masjid sebagai perpustakaan dan menghancurkan rumah peninggalah Khadijah RA untuk menjadi toilet umum. (http://palingseru.com/14151/5-peninggalan-nabi-muhammad-yang-dihancurkan-arab-saudi).
Selain itu di tempat yang dulunya rumah Abu Bakar RA sekarang sudah berdiri Hotel Hilton. Lokasi Masjid Abu Qubais juga telah jadi istana raja di Makkah.
Dari 7 masjid yang dibangun oleh putri Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin di Madinah, sudah ada 5 yang diruntuhkan: Masjid Abu Bakar, Masjid Salman, Masjid Umar, Masjid Fatimah, dan Masjid Ali.
Contoh lainnya adalah Benteng Ajyad di Bukit Bulbul yang dibangun pada 1781. Pada tahun 2002, Benteng Ajyad dihancurkan dan perbukitan Bulbul diratakan untuk memberi ruang bagi pembangunan Abraj Al-Bait Towers.
Bagi keluarga kerajaan dan ulama konservatif Saudi (yang sering disebut Wahabi), situs-situs bersejarah tersebut berpotensi melunturkan nilai-nilai keagamaan, dan mendekati kemusyrikan.
Di samping itu, ada kenyataan penting lainnya. Saban tahun jutaan umat Islam melangsungkan ritual ibadah haji di Makkah dan Madinah. Perluasan diperlukan lantaran semakin membludaknya jumlah jemaah. (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/03/17/mjt7q7-situs-sejarah-islam-di-makkah-punah).
Mega proyek ini rencananya akan merubah kawasan Masjidil Haram dari 356.000 m2 menjadi 812.000 m2. Pada saat ini, masjid terbesar di dunia ini bisa menampung hingga 770.000 jamaah. Dengan penambahan itu daya tampung akan bertambah 1,2 juta lagi sehingga total kapasitas kurang lebih 2 juta jamaah di dalam dan di halaman masjid. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana hingga US$ 100 milyar, jika di kalkulasikan dalam rupiah kira-kira sama dengan Rp 920 trilyun. (http://lelakiceria.blogspot.com/2013/06/mega-proyek-perluasan-masjidil-haram.html).
Ka'bah yang dulunya ada di titik fokus utama dari semua mata yang memandang, akan jadi seperti benda kecil di kaki menara jam.
Direktur Islamic Heritage Research Foundation, Irfan al-Alawi, mengatakan Kerajaan Saudi melakukan kecerobohan dalam pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Perluasan kawasan semestinya tidak menjadikan situs-situs sejarah tersebut sebagai obyek penghancuran. Kata dia, penghancuran situs penting Umat Islam adalah langkah signifikan menuju penghancuran situs-situs Islam berikutnya. Al-Alawi menuding Kerajaan Saudi sedang menghapus catatan sejarah Umat Islam. “Kami telah kehilangan sekitar 400-500 situs bersejarah Islam. Saya hanya berharap, sekarang tidak terlalu terlambat untuk menyelamatkan sisanya.” katanya kepada The Independent. (http://www.majalah-alkisah.com/index.php/dunia-islam/2576-makkah-berbenah--jangan-melupakan-sejarah-bagian-2).
PERTEMUAN forum ilmuwan ke-13 yang digelar di Universitas Umm Al-Qura Makkah menyatakan bahwa Gunung Abu Qubais di dekat pintu Al-Safa Masjidil Haram tidak bisa dikeruk karena merupakan sumber mata air Zamzam. Muhammad Idris yang mewakili lembaga peneliti Haji di Universitas Al-Qura mengatakan bahwa Gunung Abu Qubais merupakan hambatan bagi perluasan bagian Safa. "Laporan dari Survei Geologi Saudi membuktikan bahwa gunung Abu Qubais berisi hulu air zamzam, dan jika gunung itu dimusnahkan, akan merusak sumber mata air Zamzam," kata Idris.
Sekedar diketahui, di Makkah banyak bukit-bukit batu yang bagian bawahnya dilubangi agar dapat dilalui kendaraan. Bukit-bukit itu juga terdapat di sekitar Masjidil Haram. Salah satunya adalah bukit kecil yang disebut Gunung Abu Qubais ini. (http://pemerintah.atjehpost.com/read/2013/05/10/51203/0/51/Saudi-berencana-keruk-gunung-sumber-air-Zamzam-terancam).
Semua tuduhan penghancuran diatas diarahkan ke tiga pihak:
-Pemerintah Saudi Arabia yang dipimpin oleh keturunan Raja Muhammad bin Saud yang bergelimang petrodollar dan hidup penuh kemewahan
-Para ulama konservatif Saudi seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al Utsaimin, yang sangat keras dalam membersihkan segala hal yang ditakutkan akan membuka pintu kesyirikan. Bahkan kabarnya imam Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais, ditunjuk sebagai penanggung jawab pembangunan.
-Saudi Binladin Group yang menguasai sektor konstruksi dalam skala besar di Saudi Arabia dan memenangkan tender proyeknya. Bahkan PT Waskita Karya Tbk, BUMN Indonesia, dalam proyek itu bertindak sebagai kontraktor. (http://www.solopos.com/2013/04/10/wow-waskita-karya-jadi-kontraktor-pembangunan-masjidil-haram-395520).
Anehnya, ketika mereka menggebu-gebu menghancurkan situs bersejarah Islam di kedua kota suci, dalam waktu bersamaan mereka mengundang pintu maksiat dan kapitalisme untuk menyerbu masuk: grup-grup hotel mewah, seperti Intercontinental, termasuk pula Hilton dan ikonnya, Paris Hilton, yang bahkan mendirikan butik di Mekkah. Ckckckckck.
"Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah." (HR. Bukhari)
Monday, October 28, 2013
Kriteria Kunci Kebahagiaan
World Happiness Report yang dikeluarkan oleh UN Sustainable Development Solutions Network pada bulan September 2013 mengukur kelayakan hidup penduduk di lebih dari 150 negara berdasarkan beberapa kriteria utama: pendapatan per kapita, tingkat harapan hidup sehat, kehandalan layanan publik, persepsi kebebasan memilih, kebebasan dari korupsi, dan kemudahan memperoleh barang dan jasa. Laporan ini juga menyebutkan bahwa orang yang bahagia cenderung punya pendapatan yang lebih tinggi, lebih produktif, dan menjadi warga masyarakat yang lebih baik (refer http://www.bbc.com/travel/feature/20131022-living-in-the-worlds-happiest-places).
Dan kota mana saja yang ada di peringkat 5 besar? Ini dia:
1. Aarhus, Denmark
Aarhus adalah kota terbesar kedua di Denmark setelah Copenhagen. Penduduknya sekitar 300 ribu jiwa. Lebih 10% penduduknya adalah imigran diantaranya dari Arab, Turki, dan Somalia. Aarhus punya pelabuhan yang juga salah satu terbesar di Eropa Utara, selain mengandalkan sektor pertanian. Di kota ini juga berdiri Aarhus University yang merupakan universitas terbesar di Denmark (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Aarhus,_Denmark).
2. Oslo, Norwegia
Oslo ada kota terbesar di Norwegia. Penduduknya sekitar 600 ribu jiwa. Imigran non-Eropa disini kebanyakan berasal dari Pakistan, Somalia, Srilanka. Kota ini adalah salah satu pusat bisnis pelayaran di Eropa dengan banyak perusahaan di bidang jasa maritim. Kota ini juga salah satu kota dengan biaya hidup paling tinggi di dunia, terutama karena harga properti yang mahal. Di kota ini berdiri University of Oslo, universitas terbesar di Norwegia (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Oslo,_Norway).
3. Geneva, Swiss
Geneva adalah kota terbesar kedua di Swiss setelah Zurich, dengan penduduk sekitar 200 ribu. Kota ini adalah markas besar UN di Eropa. Ekonominya mengandalkan sektor jasa keuangan, selain produk khas seperti jam dan parfum. Geneva adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal dan tempat berdirinya University of Geneva (http://en.wikipedia.org/wiki/Geneva,_Switzerland).
4. Utrecht, Belanda
Utrecht adalah kota terbesar keempat di Belanda dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Kebanyakan imigran non-Eropa berasal dari Maroko, Turki, dan Suriname. Kota ini adalah pusat jaringan kereta di Belanda, namun lebih terkenal sebagai tempat berdirinya Utrecht University, universitas terbesar di Belanda (http://en.wikipedia.org/wiki/Utrecht,_Netherlands).
5. Malmo Swedia
Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia. Kota ini berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa dan imigran non-Eropa kebanyakan berasal dari Iraq, Libanon, dan Iran. Secara ekonomi kota ini tidak terlalu maju, sebagian penduduknya bekerja di Copenhagen Denmark karena kedua kota ini terhubung oleh salah satu jembatan diatas laut terpanjang di Eropa, Oresund Bridge. Di kota ini berdiri Malmo University yang kalah terkenal dibanding kampus di kota sebelah, Lund University (http://en.wikipedia.org/wiki/Malmo,_Sweden).
Setelah membaca mengenai kota-kota diatas, kita tentu tidak bisa bilang yakin atau tidak yakin terhadap kualifikasi yang dipakai menentukan tingkat kebahagiaan penduduknya. Mengingat ini hanya soal kebahagiaan dunia, kriterianya ya duniawiyah semata.
Tapi coba dengar apa kata Ibnu Abbas RA ketika ditanya para tabiin mengenai kebahagiaan dunia. Beliau memberikan 7 indikator:
1. Hati yang Selalu Bersyukur
Hati yang selalu merasa cukup, tanpa ambisi berlebihan, bebas stress.
2. Pasangan Hidup yang Soleh
Pasangan yang seperti ini bisa menciptakan suasana rumah yang penuh kesolehan pula.
3. Anak yang Baik
Anak yang soleh doanya untuk orang tua dijamin dikabulkan oleh Allah SWT.
4. Lingkungan yang Kondusif untuk Keimanan Kita
Orang yang soleh selalu memancarkan nikmat iman dan nikmat Islam dari cahaya wajahnya, menyinari orang-orang di sekitarnya termasuk kita.
5. Harta yang Halal
Harta yang halal memudahkan doa dikabulkan, membersihkan hati, dan memberi ketenangan.
6. Semangat Memahami Agama
Semakin cinta pada ilmu agama akan menghidupkan hati, dan akan makin cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
7. Umur yang Berkah
Semakin tua semakin soleh, setiap detik diisi dengan amal ibadah. Tidak takut untuk meninggalkan dunia ini, penuh harap untuk akhirat sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. (refer http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tujuh-kunci-kebahagiaan/).
![]() |
| Aarhus |
Dan kota mana saja yang ada di peringkat 5 besar? Ini dia:
1. Aarhus, Denmark
Aarhus adalah kota terbesar kedua di Denmark setelah Copenhagen. Penduduknya sekitar 300 ribu jiwa. Lebih 10% penduduknya adalah imigran diantaranya dari Arab, Turki, dan Somalia. Aarhus punya pelabuhan yang juga salah satu terbesar di Eropa Utara, selain mengandalkan sektor pertanian. Di kota ini juga berdiri Aarhus University yang merupakan universitas terbesar di Denmark (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Aarhus,_Denmark).
2. Oslo, Norwegia
Oslo ada kota terbesar di Norwegia. Penduduknya sekitar 600 ribu jiwa. Imigran non-Eropa disini kebanyakan berasal dari Pakistan, Somalia, Srilanka. Kota ini adalah salah satu pusat bisnis pelayaran di Eropa dengan banyak perusahaan di bidang jasa maritim. Kota ini juga salah satu kota dengan biaya hidup paling tinggi di dunia, terutama karena harga properti yang mahal. Di kota ini berdiri University of Oslo, universitas terbesar di Norwegia (refer http://en.wikipedia.org/wiki/Oslo,_Norway).
3. Geneva, Swiss
Geneva adalah kota terbesar kedua di Swiss setelah Zurich, dengan penduduk sekitar 200 ribu. Kota ini adalah markas besar UN di Eropa. Ekonominya mengandalkan sektor jasa keuangan, selain produk khas seperti jam dan parfum. Geneva adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal dan tempat berdirinya University of Geneva (http://en.wikipedia.org/wiki/Geneva,_Switzerland).
4. Utrecht, Belanda
Utrecht adalah kota terbesar keempat di Belanda dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Kebanyakan imigran non-Eropa berasal dari Maroko, Turki, dan Suriname. Kota ini adalah pusat jaringan kereta di Belanda, namun lebih terkenal sebagai tempat berdirinya Utrecht University, universitas terbesar di Belanda (http://en.wikipedia.org/wiki/Utrecht,_Netherlands).
5. Malmo Swedia
Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia. Kota ini berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa dan imigran non-Eropa kebanyakan berasal dari Iraq, Libanon, dan Iran. Secara ekonomi kota ini tidak terlalu maju, sebagian penduduknya bekerja di Copenhagen Denmark karena kedua kota ini terhubung oleh salah satu jembatan diatas laut terpanjang di Eropa, Oresund Bridge. Di kota ini berdiri Malmo University yang kalah terkenal dibanding kampus di kota sebelah, Lund University (http://en.wikipedia.org/wiki/Malmo,_Sweden).
Setelah membaca mengenai kota-kota diatas, kita tentu tidak bisa bilang yakin atau tidak yakin terhadap kualifikasi yang dipakai menentukan tingkat kebahagiaan penduduknya. Mengingat ini hanya soal kebahagiaan dunia, kriterianya ya duniawiyah semata.
Tapi coba dengar apa kata Ibnu Abbas RA ketika ditanya para tabiin mengenai kebahagiaan dunia. Beliau memberikan 7 indikator:
1. Hati yang Selalu Bersyukur
Hati yang selalu merasa cukup, tanpa ambisi berlebihan, bebas stress.
2. Pasangan Hidup yang Soleh
Pasangan yang seperti ini bisa menciptakan suasana rumah yang penuh kesolehan pula.
3. Anak yang Baik
Anak yang soleh doanya untuk orang tua dijamin dikabulkan oleh Allah SWT.
4. Lingkungan yang Kondusif untuk Keimanan Kita
Orang yang soleh selalu memancarkan nikmat iman dan nikmat Islam dari cahaya wajahnya, menyinari orang-orang di sekitarnya termasuk kita.
5. Harta yang Halal
Harta yang halal memudahkan doa dikabulkan, membersihkan hati, dan memberi ketenangan.
6. Semangat Memahami Agama
Semakin cinta pada ilmu agama akan menghidupkan hati, dan akan makin cinta kepada Allah dan rasul-Nya.
7. Umur yang Berkah
Semakin tua semakin soleh, setiap detik diisi dengan amal ibadah. Tidak takut untuk meninggalkan dunia ini, penuh harap untuk akhirat sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”. (refer http://tanbihun.com/tasawwuf/tasawuf/tujuh-kunci-kebahagiaan/).
Wednesday, October 23, 2013
Pengalaman Memperpanjang Paspor Secara Online
Ini adalah pengalaman kami ketika memperpanjang paspor. Searching di internet, masuk ke website-nya Ditjen Imigrasi, kami temukan link ini: https://onlinedpri.imigrasi.go.id. Ini adalah link untuk pra-permohonan perpanjangan paspor one-day-service yang sedang diujicoba di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.
Di link ini kami harus memasukkan beberapa informasi seperti nama sesuai paspor lama, nomor paspor lama, dan beberapa informasi lainnya. Tidak ada file yang harus di-attach. Di layar terakhir kami pilih tempat dan waktu kedatangan berikut: Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Pusat, tanggal 04-Juni-2013 jam 10:00. Setelah data di-submit, kami menerima email yang berisi surat permohonan dengan barcode, user ID dan password. Surat ini lalu kami print.
Pada tanggal yang ditentukan, kami pun datang ke Kanim Jakpus. Karena naik kereta, kami turun di stasiun Juanda, lalu disambung ojek hingga ke kantor yang berada di kawasan Kemayoran itu. Tidak terlalu jauh dari stasiun. Persyaratan yang dibawa:
1. KTP asli dan 2 fotocopy (salah satunya untuk ambil map kuning di koperasi)
2. Kartu keluarga asli dan fotocopy
3. Akta lahir atau Ijazah atau Surat nikah (kami sendiri bawa ketiga-tiganya, asli dan fotocopy)
4. Printout Surat permohonan ber-barcode
Sebagai tips, pergilah ke koperasi lebih dulu (lokasi: jalan sedikit ke bagian belakang kantor), tukarkan fotocopy KTP dengan map kuning + formulir. Masukkan semua berkas ke map itu. Formulir tidak perlu diisi.
Kembali ke pintu depan, masuk lalu langsung ke meja verifikasi berkas. Setelah dicek dan ditandai sedikit, langsung saja kami ke loket 2 yang khusus untuk permohonan online. Disini berkas dicek lagi, lalu ditandai. Setelah itu kami scan barcode di online kiosk untuk mendapat nomor urut antrian. Yang perlu diperhatikan, kami harus datang pada jam sesuai yang tertulis di printout surat permohonan tersebut. Tidak lebih cepat dan tidak pula lebih lambat.
Selanjutnya kami naik ke lantai 2 untuk menunggu giliran membayar ke kasir. Nomor urut antrian bisa dipantau lewat televisi yang jumlahnya cukup banyak. Lalu kami pun bayar sesuai ketentuan (Rp 255rb). Tak lama kemudian kami dipanggil untuk wawancara. Wawancara ini hanya menanyakan beberapa hal yang mendasar sesuai yang kita isi di permohonan online dan sedikit basa-basi soal tujuan memperpanjang paspor. Lalu geser ke meja sebelahnya untuk koreksi data, lalu geser ke sebelahnya untuk foto. Selesai, kami lalu menerima surat sebagai tanda pengambilan paspor.
Keluar dari ruang wawancara kami langsung ke loket pengambilan paspor dan diberitahu bahwa paspor bisa diambil hari itu juga jam 15.30 atau bisa juga besok paginya. Berikut adalah kronologi prosedur yang kami ikuti:
-09:00 sampai di Kanim Jakpus
-09:10 ambil map kuning, ke meja verifikasi berkas, langsung ke loket 2 khusus online
-09:30 ambil nomor antrian di online kiosk
-10:05 bayar ke kasir
-10:15 wawancara, koreksi data, dan foto
-10:30 selesai, pulang dulu
-15:30 datang lagi, ambil paspor baru
Opsional: jika paspor lama ingin diambil juga, isi juga formulir yang tersedia + materai 6 ribu. Setelah paspor baru diterima, fotocopy dulu ke koperasi, lalu serahkan ke loket pengambilan untuk mengambil paspor lamanya.
Sangat mudah bukan? Irit waktu dan tak ada pembengkakan biaya. (Artikel ini sebelumnya sudah kami muat di sini)
Monday, October 21, 2013
Perjalanan Umroh
Beberapa waktu yang lalu kami melakukan perjalanan umroh di
bulan suci Ramadhan. Perjalanan ini sungguh meninggalkan kesan yang indah dan
menyejukkan bagi kami, sehingga ingin rasanya diulang setiap tahun.
1. PERSIAPAN DI TANAH AIR
Karena baru pertama kali, tentu saja kami sempat
berlama-lama mencari travel mana yang kelihatannya paling baik tapi juga paling
murah dari segi biaya. Dari paket-paket yang umumnya disediakan, ada yang mahal
seperti paket umroh sepertiga akhir Ramadhan atau paket umroh plus Turki dan
sebagainya. Tapi kami tetap fokus mencari yang termurah dan masuk akal.
Awalnya kami tertarik ikut program Optimasi Umroh yang
diadakan oleh sebuah biro travel. Sudah bayar penuh, melengkapi persyaratan dan
lain-lain, kami pun mengikuti acara manasiknya. Peserta waktu itu cukup banyak,
mungkin tertarik dengan konsep yang ditawarkan, dan mungkin juga karena
biayanya yang sangat murah. Acara dimulai dari pagi, peserta pun cukup
bersemangat. Namun di akhir acara panitia mengumumkan bahwa jadwal keberangkatan
terpaksa ditunda karena visa yang tidak kunjung turun dan bangkrutnya salah
satu maskapai penerbangan nasional yang sedianya akan dipakai. Panitia
menawarkan jadwal baru, tapi di kemudian hari kami lebih memilih untuk batal
dan menarik uang kami kembali.
Dari pengalaman ini, kami coba menarik kesimpulan bahwa
untuk urusan ke tanah suci, jangan terlalu percaya kepada biro travel, apa lagi
yang masih baru. Lalu kami pun mencari biro yang lain. Dari hasil browsing,
maupun rekomendasi teman, kami pilih satu biro travel yang sudah berdiri sejak
tahun 1978 di daerah Jatibening, Bekasi. Kami pilih paket yang termurah (paket
9 hari) dan melengkapi persyaratan. Adapun persyaratan yang biasanya harus
dilengkapi untuk perjalanan umroh adalah:
-Setor Dana: tentu saja akan dipakai untuk membayar tiket
pesawat, hotel, visa dan sebagainya. Semua diatur oleh biro travel.
-Passport: Paspor itu minimal masih berlaku hingga 6 bulan
ke depan (menurut kami, kalau sudah akan habis masa berlakunya dalam 7-8 bulan
ke depan, mending perpanjang lagi dulu ke Imigrasi. Khusus cara perpanjang
paspor akan kami tulis di blog ini juga).
-Sertifikat Vaksinasi Meningitis: karena termasuk kawasan
rawan Meningitis (penyakit radang otak) kita wajib divaksinasi Meningitis.
Tanyakan ke pihak biro travel bagaimana cara memperolehnya. Sertifikatnya
berlaku sampai 2 tahun.
-Pasfoto: diperlukan untuk pengurusan visa dan lain-lain.
-Fotocopy KTP, KK, Buku Nikah: buku nikah dibutuhkan hanya
untuk yang ambil paket hotel sekamar suami istri.
Apa kesan kami dari biro travel ini:
-Kelihatannya cukup berpengalaman menangani travel umroh
maupun haji. Tapi soal profesionalitas mungkin berbeda. Seperti biasa, ternyata
visa juga tertunda. Bukan hanya sekali, malah berkali-kali. Untungnya petugas
yang memberitahu kami soal ini cukup telaten melayani pertanyaan dan kekecewaan
kami.
-Mulanya agenda umroh kami dimulai dari Madinah, lanjut ke
Mekkah, lalu pulang lewat Jeddah. Namun akhirnya berubah jadi dari Madinah
langsung ke Mekkah, lalu balik ke Madinah, lalu pulang lewat Jeddah. Jauh lebih
melelahkan karena jarak Mekkah maupun Jeddah ke Madinah sekitar 6 jam pakai
bis. Biro travel beralasan bahwa gara-gara visa telat, umroh kami yang
sebelumnya reguler berubah jadi umroh Ramadhan, sehingga biaya hotel meningkat
dan mereka menghindari biaya hotel yang tinggi di Mekkah saat sepertiga akhir
Ramadhan. Capek juga.
-Tiap orang berhak mendapatkan paket perlengkapan berupa
koper ukuran sedang, tas kecil untuk membawa perlengkapan sholat, mukena bagi
perempuan, kain ihram dan ikat pinggang bagi laki-laki. Selain itu ada pula
bahan kain batik yang harus kami bawa ke penjahit untuk seragam kami. Kami pun
sebelumnya sudah sempat belanja di pasar sehingga ada beberapa perlengkapan
yang jadi double, seperti kain ihram.
-Ketika berangkat dari bandara Soekarno Hatta, kami hanya
diantar sampai check-in, setelah itu kami mengurus diri masing-masing hingga
sampai di bandara Madinah. Mungkin karena rombongan kami kecil, jadi tidak
disediakan pembimbing khusus. Lain kali kami lebih suka cari travel umroh yang
pembimbingnya ikut bersama rombongan dari mulai berangkat sampai pulang ke
tanah air.
-Transportasi yang disediakan biro travel sebenarnya sangat
memadai. Tapi bis kami sempat pecah ban dalam perjalanan dari Madinah ke Jeddah.
Lumayan membuang waktu untuk menunggu bis pengganti.
-Hotel kami di Mekkah mungkin sekitar 800 meter jaraknya
dari pintu Masjidil Haram. Sedangkan yang di Madinah jaraknya sedikit lebih
dekat ke Masjid Nabawi. Mungkin karena harus menyesuaikan dengat anggaran juga.
Jadi kami agak maklum. Jarak jadi pertimbangan bagi sebagian jamaah mengingat
udara yang panas di siang hari. Kalaupun ada angin, anginnya membawa hawa panas
pula. Bagi kami, apa lagi yang terbiasa dengan panas teriknya kota Surabaya dan
Jakarta, tak masalah sama sekali.
-Di hotel, karena bulan puasa, kami dapat jatah makan sahur
dan makan berbuka. Pilihan makanan Indonesianya cukup baik. Ternyata pihak biro
travel punya juru masak dari Indonesia yang cukup jago.
Secara umum, biro travel yang berpengalaman pun tidak bisa
menjamin bahwa perjalanan umroh kita akan nyaman. Niat yang ikhlas sejak
melangkahkan kaki dari rumahlah yang akan jadi sumber kenikmatan saat tinggal
di tanah suci dan beribadah disana.
Labbaika Allahumma Labbaika. Kami tiba di bandara Madinah
malam hari. Bandaranya masih baru dan sepertinya tidak begitu besar. Kami
sempat sholat dulu disini. Baru kemudian antri imigrasi dan bagasi. Melihat
kesemrawutannya jadi ingat tanah air lagi. Keluar dari bandara, udara khas
tanah Arab langsung terasa: siangnya panas, malamnya hangat, bahkan angin pun
hangat hawanya. Hangat, seperti kalau kita berjalan di dekatnya mesin yang
bahan bakarnya solar. Disini kami bertemu dengan ustad yang akan membimbing
kami yang lalu membawa kami ke bis langsung menuju Mekkah. Kami sempat makan
dulu di bis. Lalu Pak Ustad meminta kami untuk bersiap-siap ambil miqat di Bir
Ali. Disini jamaah protes karena pihak biro travel di tanah air sebelumnya
tidak memberitahu bahwa begitu sampai Mekkah kita akan langsung umroh. Setelah
protes mereda, akhirnya jamaah pun legowo. Terpaksa agak repot bongkar-bongkar
koper dulu di masjid Bir Ali.
Di masjid Bir Ali kami mandi lalu langsung mengenakan
pakaian ihram. Untuk perempuan cukup pakaian yang menutup aurat dan bisa
dipakai untuk sholat. Bagi laki-laki, hanya boleh dua lembar kain saja (no
underwear), tanpa jahitan, untuk menutupi aurat. Sebagai penguat lipatan kain,
terutama bagian bawah, bisa digunakan ikat pinggang. Setelah sholat sunnah dua
rakaat di masjid Bir Ali, kami naik bis lagi, dan Pak Ustad membimbing kami
untuk berihram dengan membaca talbiyah ihram.
Lalu kami memperbanyak membaca talbiyah sepanjang
perjalanan, dan menyempatkan tidur. Setiba di kota Mekkah, azan Subuh dari
Masjidil Haram pun terdengar. Sebagian jamaah hanya sempat minum dan makan roti
seadanya untuk sahur. Dimulailah hari pertama berpuasa di Mekkah, tanpa sahur
yang memadai. Tak apalah, yang penting niat yang kuat. Sampai di hotel, kami
masuk ke kamar masing-masing, sholat subuh berjamaah di hotel, lalu
menyempatkan untuk istirahat sedikit, buang air, dan sebagainya. Jam 7 pagi,
ambil wudhu lagi, lalu Pak Ustad membawa kami untuk pertama kalinya menuju
Masjidil Haram.
Jalanan menuju Masjidil Haram cukup ramai oleh kendaraan maupun
jamaah baik yang baru datang maupun pulang. Begitu sampai di U-turn dekat
gerbang di sebelahnya mall/hotel Grand Zamzam, suasana tambah ramai (disini ada
lapangan yang dihinggapi banyak burung merpati. Banyak perempuan berwajah
Afrika menjual makanan burung bagi jamaah yang ingin memberi makan
burung-burung merpati disana). Talbiyah selalu kami ucapkan.
Lalu kami tiba di pintu Masjidil Haram yang dipenuhi jamaah
baik keluar maupun masuk. Tidak lupa, langsung keluarkan plastik kresek untuk
menyimpan sandal di tas. Masjidil Haram dipenuhi oleh orang yang i'tikaf.
Hampir semua bagian sudah penuh jamaah. Ada yang shalat, tilawah, ngobrol, dan
tidur. Kami langsung ambil posisi yang enak, lalu sujud syukur. Alhamdulillah,
menginjakkan kaki di depan Ka'bah untuk pertama kalinya.
Masih sekitar jam 7 pagi, dan panas mentari sudah menyengat.
Kami memulai proses umroh dengan thawaf: mengelilingi Ka'bah sebanyak 7
putaran, diawali dari salah satu pojok Ka'bah yang sejajarnya ditandai dengan
lampu hijau. Segera saja kami berdua terpisah dari rombongan karena ramainya
jalur thawaf. Pada beberapa bagian kami juga mesti berdesakan dengan jamaah
lainnya, dan tentu saja mesti sedikit mengalah mengingat postur badan orang
Indonesia kalah gede dibanding orang Arab, Afrika, India. Di awal posisi start
thawaf, sunnahnya kita mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan
'Bismillahi wallahu akbar '. Lalu berjalan terus melintasi Maqam Ibrahim,
(hanya bisa mengintip dari kaca sangkar penutupnya saja), kemudian melintasi
Hijir Ismail (susah sekali dan tidak bisa masuk ke dalam diantara tembok Hijir
Ismail dan dinding Ka'bah karena padatnya jamaah), lalu terus bergerak memutar
sampai bertemu dengan posisi start kembali, dan membaca 'Bismillahi wallahu
akbar' lagi. Begitu seterusnya sampai 7 putaran.
Setelah selesai, kami menyingkir dari arus thawaf agak
menjauh dari Ka'bah tapi masih di depannya Maqam Ibrahim (posisi Maqam Ibrahim
berada diantara posisi kami dan Ka'bah). Disana kami shalat sunnah 2 rakaat dan
berdoa yang banyak.
Kemudian kami beranjak menuju jalur sa'i. Jalur sa'i
sebenarnya dekat sekali, masih dalam kompleks Masjidil Haram. Hanya saja,
karena aktifitas pembangunan Masjidil Haram yang ada dimana-mana, kami agak
bingung sehingga mesti muter-muter dulu baru ketemu bukit Shafa (tidak seperti yang dibayangkan, biarpun masih disebut bukit, tapi tidak terasa terlalu tinggi).
Proses sa'i dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa. Di kedua
bukit itu kita berdoa dengan bacaan yang dituntunkan. Lalu jamaah mesti jalan
sebanyak 7 kali bolak-balik, dari Shafa ke Marwa ataupun dari Marwa ke Shafa
dianggap satu kali. Jadi sebenarnya secara matematis sai itu hanya 3.5 putaran
saja. Di antara kedua bukit ada bagian jalur yang ditandai dengan lampu hijau,
disini jamaah laki-laki disunnahkan untuk berlari sambil membaca doa yang
dituntunkan. Di sepanjang jalur banyak pilar-pilar yang jadi tempat favorit
jamaah yang ingin beristirahat, dan banyak pula keran air zamzam bagi yang
ingin menyegarkan diri (karena bulan puasa, mestinya jangan diminum di siang
hari, hehe).
Sa'i berakhir di bukit Shafa, dan kami menutupnya dengan
memotong rambut. Selesailah umroh pertama kami ini. Dan istimewanya di bulan
puasa pula. Kami menyempatkan diri melihat-lihat beberapa bagian Masjidil Haram
yang sedang mengalami renovasi cukup besar. Selain polisi yang jumlahnya memang
banyak, tentu banyak pula pekerja konstruksi dimana-mana, dan crane didirikan
dimana-mana. Setelah itu kami kembali melintasi lautan manusia yang lalu-lalang
di pelataran Masjidil Haram, kembali menuju hotel.
3. MADINAH
Setelah beberapa hari di Mekkah, dan sempat umroh 2 kali,
kami pindah ke Madinah. Saat itu sebentar lagi masuk 10 hari terakhir Ramadhan.
Begitu membereskan bawaan di hotel, hari sudah sore, kami langsung melangkah
menuju Masjid Nabawi. Hotel kami jaraknya sekitar 2 blok dari pintu gerbang
masjid (2 kali menyeberangi jalan). Di sepanjang trotoar yang juga merupakan
emperan hotel berbintang, banyak sekali pedagang yang ternyata nanti semakin
malam semakin ramai.
Begitu masuk halaman masjid, sudah banyak tikar plastik
terhampar dan orang duduk di depan makanan. Saya dan istri berpisah tempat, dan
belum sampai pintu masjid saya sudah ditarik-tarik oleh seorang remaja Arab
yang sok akrab dan mengajak saya masuk ke dalam masjid, ke tempat dimana
teman-temannya sudah berkumpul. Ternyata banyak sekali remaja seperti dia yang
tugasnya mengajak para jamaah untuk duduk berbuka puasa di salah satu sudut
masjid yang mereka 'kuasai'. Mungkin keluarganya ikut menyumbang makanan untuk
berbuka puasa di masjid sehingga anak ini bertugas memastikan makanan sumbangan
mereka ada yang mengkonsumsi. Saya senang-senang saja. Yang disuguhkan
sebenarnya sudah standar, biarpun lebih 'mewah' dibanding yang saya rasakan di
Masjidil Haram. Yoghurt, roti, zamzam, kurma, dan kacang.
Selama sekitar 3 malam di Madinah, inilah yang kami lakukan:
Sahur di hotel, sholat lima waktu dan tarawih di masjid, baca Quran, buka puasa di masjid, tidur di
hotel, dan belanja di toko dan kaki lima sekitar masjid. Banyak sekali toko
perhiasan di sekitar masjid, selain toko suvenir dan toko pakaian. Tapi untuk
urusan oleh-oleh, kami pilih Bin Dawood. Supermarket ini punya cabang di dekat
2 masjid penuh berkah: Haram dan Nabawi.
Friday, September 13, 2013
Perjalanan ke Bangkok
Bulan Agustus lalu kami berkesempatan jalan-jalan ke Bangkok. Cukup menyenangkan karena bisa mengunjungi beberapa obyek yang sudah kami targetkan sebelumnya.
1. Pratunam Market, Platinum Mall
Cukup 15 menit jalan kaki dari hotel, melewati perempatan jalan dan Kedubes RI, sampailah kami di Platinum. Mall biasa sih, mungkin seperti Ambassador di Jakarta. Cukup banyak toko dengan produk beragam. Melintasi barang dagangan mereka kami berpikir bahwa orang Thailand punya kelebihan dalam kreatifitas mengolah pernik-pernik kecil dibanding orang Indonesia. Mungkin sistem pendidikan mereka lebih memungkinkan untuk lahirnya seniman-seniman desain dan pengrajin kreatif. Mungkin sistem pendidikan kita terlalu textbook sehingga kreatifitas mati sejak di bangku sekolah, ketika membuat produk pun hanya bisa meniru tanpa inovasi.
Banyak orang dari Afrika, Timur Tengah, dan yang paling menarik adalah orang Indonesia, berbelanja disini. Menurut kami, kualitas produk Thailand tidak sebaik produk Indonesia. Tapi mereka unggul dalam model, kreasi, dan.... harga!! Pernah beli produk Dowa dari Jogja? Mahal bukan? Tapi produk Thailand di sekian banyak pasar mereka tidak semahal itu. Kata seorang teman, uang sedikit di Thailand ada nilainya, uang di Indonesia harus cukup banyak dulu baru ada nilainya.
Di Platinum cukup mudah untuk mencari tempat sholat. Prayer room untuk laki-laki ada di pojok sebelah lift lantai 5 dekatnya kantor bank, sedangkan perempuan di lantai 2. Makanan halal bisa dicari di food court lantai 6. Yang punya label halal menjual nasi ayam dan fishball noodle. Pukul 7 malam kebanyakan toko sudah tutup. Giliran pedagang di trotoar yang makin ramai pengunjung.
2. Madame Tussaud museum
Dari hotel kami cukup jalan kaki untuk mencapai stasiun BTS terdekat, Ratchathewi. Hanya sebentar saja naik BTS dan langsung turun di stasiun Siam. Untuk sampai di Madame Tussaud, kami melewati Siam Paragon, yang punya connecting bridge dengan Siam Discovery. Museumnya ada di lantai 6 Siam Discovery. Beberapa hari sebelumnya, kami sudah membeli tiket secara online untuk early bird seharga separo dari tiket normal. Jadi harus datang sebelum jam 12 siang dan menunjukkan bukti konfirmasi yang kami simpan di tablet PC.
Seperti museum patung lainnya, isinya hanyalah patung-patung lilin yang hampir menyerupai sosok yang digambarkan. Di depan ticket counter saat itu ada patungnya Tom Cruise. Begitu masuk langsung ketemu patungnya Soekarno. Luar biasa..... ini adalah spot favorit pengunjung dari Indonesia yang memang cukup banyak (ckckckckck). Lalu ada para pemimpin negara lainnya seperti Mahathir Mohammad, Vladimir Putin, Hu Jintao, Barack dan Michelle Obama, Ratu Elizabeth, Pangeran William dan Kate istrinya, Mao Zhedong, Gandhi, Dalai Lama, Aung San Suu Kyi, dan lain-lain. Dari olahragawan ada Tiger Woods lengkap dengan stick golfnya, Yao Ming lengkap dengan keranjang basketnya, Beckham yang sedang leyeh-leyeh, Wayne Rooney, Gerrards, dan sebagainya. Dari seniman ada Pablo Picasso, Beethoven, dan Einstein (ups, beliau kan ilmuwan). Dari selebriti ada Oprah Winfrey, Jim Carrey, tuan dan nyonya Depp, George Clooney, Jackie Chan, dan sebagainya. Semakin banyak foto yang dijepret, semakin lama kita berada di ruangan museum yang tak begitu luas itu. Bagi yang tak suka foto-foto, setengah jam pun sudah lama.
3. Chatuchak Weekend Market
Sesuai namanya, pasar ini buka hari Sabtu dan Minggu. Saking luasnya, pasar ini dilayani oleh satu stasiun BTS dan dua stasiun MRT (sorry kalau terlalu dibesar-besarkan, hehe). Kami berangkat dari stasiun BTS Ratchathewi dan keluar di stasiun Mo Chit. Dari situ tinggal jalan kaki melintasi Chatuchak Park sampai ke weekend marketnya. Cukup 5 menit juga nyampe. Kalau tidak mau jalan kaki lewat taman, langsung nyambung aja ke stasiun MRT Chatuchak Park, lalu naik MRT sekali dan keluar di stasiun Khamphaeng Phet.
Pasar ini luas sekali, dan jualannya mulai dari produk kerajinan, busana, tas, sepatu, peralatan rumah tangga, perhiasan, makanan, buku bekas, dan sebagainya. Akan melelahkan jika harus menelusuri seluruh section dan soi yang ada. Jadi, baca petanya dulu agar tepat sasaran. Selebihnya, kami membiarkan diri tersesat dalam keriuhan pasar ini. Jika waktu sholat tiba, anda bisa ke musholla di pojok dekat TMB Bank di belakangnya parkiran motor (bisa dicapai dari pintu keluar MRT Khamphaeng Phet terus ikuti jalur utama ke arah kiri hingga sampai pojok parkiran yg banyak motor dan mobil parkir berjejer, hingga lewati TMB bank dan masuk ke gang kecil). Musholla lainnya ada di Section 16, di tengah-tengah pasar, di sekitarnya banyak warung makan halal. Mudah saja mencari makanan halal disini, mulai dari Tom Yum sampai Mataba. Paling gampang dilihat dari kerudung yang dipakai penjualnya, atau label halal di papan namanya. Bagi penggemar belanja, butuh seharian untuk memuaskan diri di pasar ini.
4. Vimanmek Mansion
Dari stasiun Ratchathewi, naik BTS sampai Victory Monument, turun dan ikuti trotoar sampai ke halte bus yang cukup panjang di depan bundaran monumen. Naik bus nomor 28 lalu turun di depan Vimanmek Mansion (kami tak tahu tempatnya, tapi kami ditolong seorang anak sekolah yang menunjukkan dimana harus turun). Tamannya luas, mesti masuk terus ke dalam untuk menemukan ticket counter. Lalu jalan lagi sampai ketemu toko suvenir dan locker untuk menyimpan barang. Semua harus disimpan, terutama sekali handphone. Dilarang keras membawa kamera dan handphone (akan ada petugas yang memeriksa dengan ketat di pintu masuk bangunan istana). Pakaian juga harus sopan, tidak boleh celana pendek.
Setelah itu silakan antri, dan nikmati arsitektur dan interior istana ini. Meja, kursi, foto di dinding, pernak-pernik, perabot. Mungkin cukup 30 menit saja untuk menyelesaikan tur di istana ini. Jika belum puas, silakan lanjut jalan kaki ke museum lainnya di kompleks ini yang menampilkan hasil jepretan raja serta barang milik raja lainnya.
5. Mah Boon Krong
MBK adalah sebuah mall yang sudah cukup lama berdiri di kawasan sekitar stasiun BTS Siam dan National Stadium. Kira-kira mirip Mangga Dua di Jakarta. Di sekitarnya sudah banyak mall baru yang lebih mewah. Kalau tidak mau jalan di trotoar, ikuti saja alur dari stasiun BTS Siam lalu masuk ke Siam Paragon, lanjut lewat jembatan ke Siam Discovery, lalu lewat jembatan ke MBK. Atau bisa juga langsung dari stasiun BTS National Stadium. Nothing special, kecuali bahwa ini adalah "pusat belanja". Sekali lagi, "PUSAT BELANJA". yang ingin belanja, kelupaan beli oleh-oleh, ya kesini. Restoran halal ada di lantai 5, musholla di lantai 6.
6. Asiatique
Dulu orang biasa pergi ke Suan Lum untuk melihat night bazaar. Sekarang sudah tak ada lagi, tapi suasana serupa bisa ditemukan di Asiatique. Tempat ini juga baru buka di sore hari. Cara mencapainya juga unik. Naik BTS sampai stasiun Saphan Taksin, turun, lalu ikuti antrian di sisi paling kiri dari dermaga Sathorn pier. Ada boat gratis yang akan menganter kita ke dermaga Asiatique. Tips: bawa kamera. Pemandangan sore di pinggir sungai Chao Phraya menyenangkan bagi tukang jepret. Ada bianglala besar yang menarik untuk dijadikan background. Selain itu, tentu saja ini seperti pasar malam, banyak toko yang menjual beragam produk serta restoran-restoran.
Jalan saja terus, lewati rumah Juliet dan deretan toko-toko berkonsep warehouse, dan kami bertemu jalan raya, di seberang ada parkiran, di sebelahnya ada Masjid. Saat itu tiba-tiba hujan deras, memaksa kami berteduh di tenda penjual makanan halal di sekitar masjid itu.
7. Chinatown
Selain Asiatique, Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, ada pula Chinatown yang bisa diakses lewat sungai yang sama (bayarnya diatas boat). Dari dermaga Sathorn, naik boat berbendera orange menuju arah kanan dari dermaga, turun di dermaga Rachawongs. Ini sebenarnya juga pasar, yang bikin beda adalah nuansa Chinese di daerah tersebut. Pasar yang besar dan cukup luas. Sekali lagi, BESAR dan LUAS. Harga barang pun bersaing dengan pasar-pasar lainnya. Saat itu kami kesulitan mencari bros untuk oleh-oleh. Ternyata di Chinatown ada toko yang khusus jual beraneka bros.
8. Tur ke luar kota: Ayutthaya
Dari hotel kami naik taxi ke stasiun kereta Hua Lamphong. Ini mirip stasiun Kota di Jakarta. Dalam sehari ada beberapa kereta yang melayani rute melewati Ayutthaya. Kereta di Thailand lebih terawat. Secara teknis kereta yang kami tumpangi adalah kelas ekonomi, sama dengan kelas Ekonomi di Indonesia, tapi kipas anginnya hidup semua, toilet bersih, wastafel airnya mengalir lancar. Tapi soal jadwal, mungkin masih ada kemiripan dengan di Indo karena kami sempat harus menunggu keretanya sampai 1 jam.
Kami turun di stasiun Ayutthaya setelah 1.5 jam perjalanan. Bersama rombongan kami menyewa tuktuk dari seorang calo di stasiun untuk berkeliling obyek wisata. Hebat, 8 orang pun muat! Ayutthaya adalah ibukota kerajaan Siam di masa lampau. Pernah jadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, lalu porak-poranda dihancurkan oleh pasukan negara tetangga, kerajaan Burma. Kerajaan Siam memindahkan ibukotanya ke Bangkok, dan Ayutthaya tinggal berisi puing reruntuhan sisa kejayaan masa lalu. Itulah yang kami temui di semua obyek wisata yang dikunjungi. Candi-candi yang sudah tidak utuh lagi, istana yang tinggal pondasinya saja, dan cuaca yang panas.
Di siang hari kami menyempatkan diri makan siang di warung makan halal di dekat kompleks candi yang juga ada kuil berisi patung Buddha tidur. Tampaknya si pemilik cukup senang ada muslim negara lain yang berkunjung. Kami pun kembali ke Bangkok, namun kali ini menggunakan angkutan mobil van (diantar ke pangkalannya oleh si tuktuk) sampai ke Victory Monument.
******************
Masjid Darul Aman
Kami menginap di Samran Place Hotel di jalan Petchaburi. Nothing special, sepertinya kami lebih suka menginap di hotel sebelah, Bangkok City Hotel, kalau ada kesempatan di masa mendatang (review tentang makanannya lebih baik). Di seberang jalan, ada banyak penjual makanan halal pinggir jalan yang buka di malam hari, mirip di Indonesia. Di seberang jalan juga, Petchaburi soi 7, ada masjid Darul Aman yang cukup besar dan biasa jadi tempat sholat Jumat. Di sekitar masjid itu ada banyak restoran halal, seperti restoran Makyah, Farida Fatornee, Ali Selatan, Hayati, dan sebagainya.
Intinya, wisatawan muslim tak perlu pusing berkunjung ke Bangkok. Banyak masjid, bahkan di bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang pun ada musholla, dan makanan halal ada dimana-mana.
1. Pratunam Market, Platinum Mall
Cukup 15 menit jalan kaki dari hotel, melewati perempatan jalan dan Kedubes RI, sampailah kami di Platinum. Mall biasa sih, mungkin seperti Ambassador di Jakarta. Cukup banyak toko dengan produk beragam. Melintasi barang dagangan mereka kami berpikir bahwa orang Thailand punya kelebihan dalam kreatifitas mengolah pernik-pernik kecil dibanding orang Indonesia. Mungkin sistem pendidikan mereka lebih memungkinkan untuk lahirnya seniman-seniman desain dan pengrajin kreatif. Mungkin sistem pendidikan kita terlalu textbook sehingga kreatifitas mati sejak di bangku sekolah, ketika membuat produk pun hanya bisa meniru tanpa inovasi.
Banyak orang dari Afrika, Timur Tengah, dan yang paling menarik adalah orang Indonesia, berbelanja disini. Menurut kami, kualitas produk Thailand tidak sebaik produk Indonesia. Tapi mereka unggul dalam model, kreasi, dan.... harga!! Pernah beli produk Dowa dari Jogja? Mahal bukan? Tapi produk Thailand di sekian banyak pasar mereka tidak semahal itu. Kata seorang teman, uang sedikit di Thailand ada nilainya, uang di Indonesia harus cukup banyak dulu baru ada nilainya.
Di Platinum cukup mudah untuk mencari tempat sholat. Prayer room untuk laki-laki ada di pojok sebelah lift lantai 5 dekatnya kantor bank, sedangkan perempuan di lantai 2. Makanan halal bisa dicari di food court lantai 6. Yang punya label halal menjual nasi ayam dan fishball noodle. Pukul 7 malam kebanyakan toko sudah tutup. Giliran pedagang di trotoar yang makin ramai pengunjung.
2. Madame Tussaud museum
Dari hotel kami cukup jalan kaki untuk mencapai stasiun BTS terdekat, Ratchathewi. Hanya sebentar saja naik BTS dan langsung turun di stasiun Siam. Untuk sampai di Madame Tussaud, kami melewati Siam Paragon, yang punya connecting bridge dengan Siam Discovery. Museumnya ada di lantai 6 Siam Discovery. Beberapa hari sebelumnya, kami sudah membeli tiket secara online untuk early bird seharga separo dari tiket normal. Jadi harus datang sebelum jam 12 siang dan menunjukkan bukti konfirmasi yang kami simpan di tablet PC.
Seperti museum patung lainnya, isinya hanyalah patung-patung lilin yang hampir menyerupai sosok yang digambarkan. Di depan ticket counter saat itu ada patungnya Tom Cruise. Begitu masuk langsung ketemu patungnya Soekarno. Luar biasa..... ini adalah spot favorit pengunjung dari Indonesia yang memang cukup banyak (ckckckckck). Lalu ada para pemimpin negara lainnya seperti Mahathir Mohammad, Vladimir Putin, Hu Jintao, Barack dan Michelle Obama, Ratu Elizabeth, Pangeran William dan Kate istrinya, Mao Zhedong, Gandhi, Dalai Lama, Aung San Suu Kyi, dan lain-lain. Dari olahragawan ada Tiger Woods lengkap dengan stick golfnya, Yao Ming lengkap dengan keranjang basketnya, Beckham yang sedang leyeh-leyeh, Wayne Rooney, Gerrards, dan sebagainya. Dari seniman ada Pablo Picasso, Beethoven, dan Einstein (ups, beliau kan ilmuwan). Dari selebriti ada Oprah Winfrey, Jim Carrey, tuan dan nyonya Depp, George Clooney, Jackie Chan, dan sebagainya. Semakin banyak foto yang dijepret, semakin lama kita berada di ruangan museum yang tak begitu luas itu. Bagi yang tak suka foto-foto, setengah jam pun sudah lama.
3. Chatuchak Weekend Market
Sesuai namanya, pasar ini buka hari Sabtu dan Minggu. Saking luasnya, pasar ini dilayani oleh satu stasiun BTS dan dua stasiun MRT (sorry kalau terlalu dibesar-besarkan, hehe). Kami berangkat dari stasiun BTS Ratchathewi dan keluar di stasiun Mo Chit. Dari situ tinggal jalan kaki melintasi Chatuchak Park sampai ke weekend marketnya. Cukup 5 menit juga nyampe. Kalau tidak mau jalan kaki lewat taman, langsung nyambung aja ke stasiun MRT Chatuchak Park, lalu naik MRT sekali dan keluar di stasiun Khamphaeng Phet.
Pasar ini luas sekali, dan jualannya mulai dari produk kerajinan, busana, tas, sepatu, peralatan rumah tangga, perhiasan, makanan, buku bekas, dan sebagainya. Akan melelahkan jika harus menelusuri seluruh section dan soi yang ada. Jadi, baca petanya dulu agar tepat sasaran. Selebihnya, kami membiarkan diri tersesat dalam keriuhan pasar ini. Jika waktu sholat tiba, anda bisa ke musholla di pojok dekat TMB Bank di belakangnya parkiran motor (bisa dicapai dari pintu keluar MRT Khamphaeng Phet terus ikuti jalur utama ke arah kiri hingga sampai pojok parkiran yg banyak motor dan mobil parkir berjejer, hingga lewati TMB bank dan masuk ke gang kecil). Musholla lainnya ada di Section 16, di tengah-tengah pasar, di sekitarnya banyak warung makan halal. Mudah saja mencari makanan halal disini, mulai dari Tom Yum sampai Mataba. Paling gampang dilihat dari kerudung yang dipakai penjualnya, atau label halal di papan namanya. Bagi penggemar belanja, butuh seharian untuk memuaskan diri di pasar ini.
4. Vimanmek Mansion
Dari stasiun Ratchathewi, naik BTS sampai Victory Monument, turun dan ikuti trotoar sampai ke halte bus yang cukup panjang di depan bundaran monumen. Naik bus nomor 28 lalu turun di depan Vimanmek Mansion (kami tak tahu tempatnya, tapi kami ditolong seorang anak sekolah yang menunjukkan dimana harus turun). Tamannya luas, mesti masuk terus ke dalam untuk menemukan ticket counter. Lalu jalan lagi sampai ketemu toko suvenir dan locker untuk menyimpan barang. Semua harus disimpan, terutama sekali handphone. Dilarang keras membawa kamera dan handphone (akan ada petugas yang memeriksa dengan ketat di pintu masuk bangunan istana). Pakaian juga harus sopan, tidak boleh celana pendek.
Setelah itu silakan antri, dan nikmati arsitektur dan interior istana ini. Meja, kursi, foto di dinding, pernak-pernik, perabot. Mungkin cukup 30 menit saja untuk menyelesaikan tur di istana ini. Jika belum puas, silakan lanjut jalan kaki ke museum lainnya di kompleks ini yang menampilkan hasil jepretan raja serta barang milik raja lainnya.
5. Mah Boon Krong
MBK adalah sebuah mall yang sudah cukup lama berdiri di kawasan sekitar stasiun BTS Siam dan National Stadium. Kira-kira mirip Mangga Dua di Jakarta. Di sekitarnya sudah banyak mall baru yang lebih mewah. Kalau tidak mau jalan di trotoar, ikuti saja alur dari stasiun BTS Siam lalu masuk ke Siam Paragon, lanjut lewat jembatan ke Siam Discovery, lalu lewat jembatan ke MBK. Atau bisa juga langsung dari stasiun BTS National Stadium. Nothing special, kecuali bahwa ini adalah "pusat belanja". Sekali lagi, "PUSAT BELANJA". yang ingin belanja, kelupaan beli oleh-oleh, ya kesini. Restoran halal ada di lantai 5, musholla di lantai 6.
6. Asiatique
Dulu orang biasa pergi ke Suan Lum untuk melihat night bazaar. Sekarang sudah tak ada lagi, tapi suasana serupa bisa ditemukan di Asiatique. Tempat ini juga baru buka di sore hari. Cara mencapainya juga unik. Naik BTS sampai stasiun Saphan Taksin, turun, lalu ikuti antrian di sisi paling kiri dari dermaga Sathorn pier. Ada boat gratis yang akan menganter kita ke dermaga Asiatique. Tips: bawa kamera. Pemandangan sore di pinggir sungai Chao Phraya menyenangkan bagi tukang jepret. Ada bianglala besar yang menarik untuk dijadikan background. Selain itu, tentu saja ini seperti pasar malam, banyak toko yang menjual beragam produk serta restoran-restoran.
Jalan saja terus, lewati rumah Juliet dan deretan toko-toko berkonsep warehouse, dan kami bertemu jalan raya, di seberang ada parkiran, di sebelahnya ada Masjid. Saat itu tiba-tiba hujan deras, memaksa kami berteduh di tenda penjual makanan halal di sekitar masjid itu.
7. Chinatown
Selain Asiatique, Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, ada pula Chinatown yang bisa diakses lewat sungai yang sama (bayarnya diatas boat). Dari dermaga Sathorn, naik boat berbendera orange menuju arah kanan dari dermaga, turun di dermaga Rachawongs. Ini sebenarnya juga pasar, yang bikin beda adalah nuansa Chinese di daerah tersebut. Pasar yang besar dan cukup luas. Sekali lagi, BESAR dan LUAS. Harga barang pun bersaing dengan pasar-pasar lainnya. Saat itu kami kesulitan mencari bros untuk oleh-oleh. Ternyata di Chinatown ada toko yang khusus jual beraneka bros.
8. Tur ke luar kota: Ayutthaya
Dari hotel kami naik taxi ke stasiun kereta Hua Lamphong. Ini mirip stasiun Kota di Jakarta. Dalam sehari ada beberapa kereta yang melayani rute melewati Ayutthaya. Kereta di Thailand lebih terawat. Secara teknis kereta yang kami tumpangi adalah kelas ekonomi, sama dengan kelas Ekonomi di Indonesia, tapi kipas anginnya hidup semua, toilet bersih, wastafel airnya mengalir lancar. Tapi soal jadwal, mungkin masih ada kemiripan dengan di Indo karena kami sempat harus menunggu keretanya sampai 1 jam.
Kami turun di stasiun Ayutthaya setelah 1.5 jam perjalanan. Bersama rombongan kami menyewa tuktuk dari seorang calo di stasiun untuk berkeliling obyek wisata. Hebat, 8 orang pun muat! Ayutthaya adalah ibukota kerajaan Siam di masa lampau. Pernah jadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, lalu porak-poranda dihancurkan oleh pasukan negara tetangga, kerajaan Burma. Kerajaan Siam memindahkan ibukotanya ke Bangkok, dan Ayutthaya tinggal berisi puing reruntuhan sisa kejayaan masa lalu. Itulah yang kami temui di semua obyek wisata yang dikunjungi. Candi-candi yang sudah tidak utuh lagi, istana yang tinggal pondasinya saja, dan cuaca yang panas.
Di siang hari kami menyempatkan diri makan siang di warung makan halal di dekat kompleks candi yang juga ada kuil berisi patung Buddha tidur. Tampaknya si pemilik cukup senang ada muslim negara lain yang berkunjung. Kami pun kembali ke Bangkok, namun kali ini menggunakan angkutan mobil van (diantar ke pangkalannya oleh si tuktuk) sampai ke Victory Monument.
******************
Masjid Darul Aman
Kami menginap di Samran Place Hotel di jalan Petchaburi. Nothing special, sepertinya kami lebih suka menginap di hotel sebelah, Bangkok City Hotel, kalau ada kesempatan di masa mendatang (review tentang makanannya lebih baik). Di seberang jalan, ada banyak penjual makanan halal pinggir jalan yang buka di malam hari, mirip di Indonesia. Di seberang jalan juga, Petchaburi soi 7, ada masjid Darul Aman yang cukup besar dan biasa jadi tempat sholat Jumat. Di sekitar masjid itu ada banyak restoran halal, seperti restoran Makyah, Farida Fatornee, Ali Selatan, Hayati, dan sebagainya.
Intinya, wisatawan muslim tak perlu pusing berkunjung ke Bangkok. Banyak masjid, bahkan di bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang pun ada musholla, dan makanan halal ada dimana-mana.
Subscribe to:
Comments (Atom)




















_20131112074212773-353971246.jpg)


_201311120743256651393201576.jpg)


